preloader

Investasi Pasif dengan Index Funds (2): Mengapa?Blog

Jadi apa alasan saya berinvestasi pasif? Setelah menerapkan investasi pasif dalam tiga tahun terakhir, saya bisa menjalani hidup tanpa memusingkan tema finansial.

post-thumb

BY Yongkie / ON Sep 15, 2016

Jadi apa alasan saya berinvestasi pasif? Setelah menerapkan investasi pasif dalam tiga tahun terakhir, saya bisa menjalani hidup tanpa memusingkan tema finansial. Malahan saya mempunyai waktu untuk membaca buku dan memperdalam wawasan saya. Apabila ada sesorang yang berinvestasi di property (rumah atau apartement), maka saya tidak lagi ingin ikut-ikutan cari property kalau belum punya uang yang cukup. Disini saya ingin menjabarkan alasan-alasan mengapa investasi pasif sangat menguntungkan dari segi ekonomi dan psikologi:

Alasan Ekonomi

1. Keuntungan investasi yang relativ tinggi

Terjun di pasar saham itu berarti bisnis. Dalam berbisnis setiap orang mau mendapatkan keuntungan, titik! Maka dari itu saya tetap mengacu keuntungan sebagai faktor ekonomi utama.

Keuntungan dari index fund yang bisa didapat bersumber dari dua faktor, yaitu kenaikan kurs dan dividen atau nilai aktiva bersih (NAB , dalam bahasa Inggris NAV). Dividen atau NAB/NAV tergantung dari produk index fund yang dibeli. Seperti yang saya bahas sebelumnya, nilai suatu index fund mencerminkan nilai keseluruhan pasar perdagangan. Kita bisa meng-cross-check alasan saya ini dengan memantau nilai dari index pasar saham dunia dari MSCI World di justETF atau nilai MSCI Indonesia. Coba dilihat di kolom “1 year in %”.

2. Resiko yang relatif rendah

Resiko yang relatif rendah ini saya bandingkan dengan membeli satu atau beberapa saham perusahaan atau bahkan membeli rumah dengan uang muka dibawah 20% harga rumah. Singkat saja, jika kita membeli saham perusahaan A tiga tahun yang lalu, lalu perusahaan A tahun ini mengalami masalah dan bangkrut. Maka uang investasi kita akan hilang semua apabila kita tidak menjual saham tersebut. Betul kita bisa menjual saham A sebelumnya, tapi di saat kapan kita sebagai private investor mengetahui berita jelek ini? Biasanya ketika saham sudah jatuh banyak baru kita mengetahui, dan saat itu kita sudah pasti merugi banyak.

Bagaimana dengan index funds? Apabila perusahaan A tercantum di IHSG atau JCI, dan kita berinvestasi di index fund yang mencakup nilai IHSG. Maka, apabila perusahaan A mengalami kebangkrutan, IHSG secara automatis akan memilih perusahaan lainnya yang memiliki nilai kapitalisasi dibawah perusahaan A. Penting untuk diingat, disini kita tidak membutuhkan manager investasi.

Nilai index fund tergantung dari keadaan dan situasi dari negara atau regional tersebut. Maka nilai index fund pun bisa mengalami penurunan. Dalam situasi ini, saya tidak akan panik dan menjual index funds saya. Faktor resiko lainnya adalah stabilitas dari institut atau perusahaan yang mengeluarkan produk index funds. Oleh karena itu, perhatikan nilai dana kelolaan atau AUM (Asset Under Management) dari suatu produk index fund. Carilah produk yang mempunyai nilai AUM yang besar sehingga menutup kemungkinan bahwa produk tersebut dicabut dari pasar. Di Indonesia contohnya, saya secara pribadi tidak akan membeli reksadana yang dana kelolaannya dibawah 40 miliar rupiah, karena beresiko dilikuidasi (ditutup). Sedangkan untuk produk luar negeri (seperti dari iShares, Lyxor, HSBC, PowerShares), saya sarankan mencari index funds yang dana kelolaannya lebih besar dari 100 juta USD atau EUR.

3. Aktiv jual beli malah bikin kita bokek dan memperkaya broker

Anda tahu mengapa banyak sekali broker di Indonesia dan di dunia? Mengapa banyak juga broker-broker palsu di Indonesia? Hal ini dikarenakan menjadi broker itu sangat menguntungkan karena mereka mendapatkan keuntungan pasif dari biaya transaksi dan komisi setiap kali kita bertransaksi. Jadi tetaplah berpikir dingin apabila broker Anda memacu untuk aktif jual beli.

4. Tidak ada yang bisa meramal masa depan dengat tepat dalam jangka panjang

Bahkan para pakar ekonomi pun tidak bisa meramal masa depan perekonomian Indonesia ataupun dunia terus menerus. Kita akan menjumpai perekonomian yang naik dan turun, bullish dan bearish, booming dan crash, optimisme dan pesimisme. Di saat booming saya berinvestasi agak sedikit, disaat krisis saya akan berinvestasi lebih banyak, di saat keadaan biasa saja, maka saya juga berinvestasi yang wajar sesuai uang tabungan yang bisa saya sisakan. Yang penting saya tidak panik.

Alasan Psikologi

1. Simpel

Investasi pasif mempunyai prinsip Keep It Simple. Mengapa simpel? Karena kita yang berinvestasi pasif tidak mau ambil pusing. Jadi kita hanya memperhatikan beberapa faktor, yaitu:

  1. biaya per tahun
  2. investasi berkala (tidak aktif jual beli)
  3. diversifikasi di index funds (index dunia, index Emerging Market, dan index lokal) dan
  4. diet informasi (terutama berita ekonomi).

Investasi pasif bukan cara untuk kaya cepat ataupun untuk memaksimalkan laba investasi.

2. Mengurangi stress dan hidup lebih sehat

Kalau kita setiap hari tidak melihat grafik yang selalu naik turun dari nilai saham ataupun index. Maka kita tidak akan panik dan takut akan kehilangan uang, sehingga kita tidak akan stress hanya karena takut nilai investasi kita hancur. Mereka yang hidupnya tidak banyak cemas dan stress mempunyai kesehatan yang bagus, sehingga mereka bisa membangun bisnis atau karir yang menjadi sumber pendapatan utama.

3. Control what you can control

Jangan ambil pusing untuk mengontrol hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebagai private investor pasar saham, politik dan kecelakaan heboh tidak bisa kita kendalikan dan pengaruhi, kecuali kita termasuk 10 orang terkaya di dunia.

4. Mempunyai waktu lebih untuk hal lain yang lebih penting

Mana yang lebih penting keluarga atau melototin harga saham? Mana yang lebih penting olahraga dan bersosialisasi dengan teman atau cemas akan harga emas? Kecuali Anda seorang pengangguran dan masih punya banyak waktu untuk cemas ataupun harapan yang berlebihan akan kaya cepat, jangan buang waktu Anda yang berharga!

Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin