preloader

Investasi Pasif dengan Index Funds (3): Strategi dan Alokasi AsetBlog

Melanjutkan seri artikel ‘Investasi Pasif dengan Index Funds’, kali ini saya ingin berbagi strategi dan alokasi aset pembagian investasi (portfolio).

post-thumb

BY Yongkie / ON Oct 03, 2016

Melanjutkan seri artikel “Investasi Pasif dengan Index Funds”, kali ini saya ingin berbagi strategi dan alokasi aset pembagian investasi (portfolio).

Jika Anda lulusan universitas jurusan ekonomi ataupun sudah bertahun-tahun aktiv di bursa saham, maka Anda pasti sudah mengenali berbagai macam strategi investasi (bila tidak bisa dibaca sekilas di Wikipedia). Seperti judul blog dan artikel ini, strategi utama saya adalah berinvestasi pasif. Akan tetapi strategi ini terdengar sangat abstrak di kalangan masyarakat umum. Oleh karena itu saya ingin menjabarkan secara konkret, strategi investasi pasif saya sebagai berikut:

Strategi Konkrit

1. M-K-S: Memulai Kecil dan Simpel

Dengan memulai dari kecil, saya memperkecil resiko investasi dan berusaha mempelajari dan mencari tahu informasi mengenai keuntungan, biaya tertutup dan kesulitan yang bakal dijumpai kedepan. Hal-hal yang terjadi di bursa saham adalah hal-hal di luar kontrol kita. Maka dari itu kita perlu mencoba terlebih dahulu dengan memulai investasi kecil dan simpel.

2. Buy and hold (beli dan simpan)

Saya membeli produk index funds tidak untuk berspekulasi, melainkan untuk disimpan dalam jangka panjang. Apabila saya tidak ada niat ataupun takut untuk menyimpan suatu index funds untuk jangka panjang, maka lebih baik saya tidak beli sama sekali.

3. Investasi berkala dan jangka panjang

Strategi ini melengkapi strategi pertama dan merupakan jawaban atas pertanyaan banyak orang yang bertanya:

“Apabila saya membeli untuk disimpan, lalu kalau nilai kurs atau harga indeks menurun kan saya merugi donk?”

Jawaban saya:

“Apabila nilai kurs turun maka itu saatnya saya membeli lagi. Jika nilai kurs tidak turun saya tetap akan membeli. Bahkan kalaupun harga jatuh atau anjlok dikarenakan krisis finansial, maka saya justru lebih tenang karena harga index lagi discount. Saya bisa menerima kenyataan ini dan lebih baik menjalani kehidupan berinvestasi daripada tidak sama sekali.”

Investasi berkala adalah investasi berkelanjutan. Kita bisa memutuskan antara berinvestasi setiap bulan sekali atau 3 bulan sekali, atau membeli bila ada uang tabungan yang terkumpul. Dalam hal ini setiap individu, mempunyai situasi yang berbeda-beda. Yang penting kita tidak menerapkan strategi poker all in , dimana kita membeli dengan semua uang yang ada dan menunggu apakah 1 tahun atau 2 tahun kedepan kita mendapat untung atau sebaliknya. Juga tidak menunggu-nunggu titik terendah untuk berinvestasi.

3 Alasan mengapa strategi ini sangat penting: 1. Masa depan tidak ada yang bisa meramal, yang pasti bakal ada fase naik dan fase turun. 2. Investasi berkala mengurangi resiko dengan mengambil nilai rata-rata. 3. Memungkinkan kita untuk memulai berinvestasi di index funds saat ini juga.

4. Fleksibel: optimis di waktu krisis, berhati-hati di waktu booming

Di waktu semua orang ingin membeli saham (booming atau bubble), maka saya akan membeli jumlah lembaran index fund lebih sedikit dari biasanya. Di saat kondisi pasar lesu atau krisis dan saya punya cukup uang tabungan sisa, maka saya akan lebih berani membeli lebih banyak. Perlu diingat, nilai indeks mempunyai fase naik dan fase turun. Akan tetapi index tidak akan sampai hilang atau bangkrut. Coba kita bayangkan apabila IHSG mencapai nilai 0, maka tidak ada lagi yang namanya perdagangan dan perusahaan di Indonesia. Apabila tidak ada perdagangan, maka uang juga tidak bernilai lagi. Jadi don’t worry, kalau memang IHSG mencapai nilai 0, maka kita juga tidak perlu lagi berkerja susah payah, menabung dan berinvestasi.

5. Tidak berhutang untuk berinvestasi

Jangan berhutang untuk berinvestasi! Meskipun harga index funds lagi jatuh dan sangat murah, apabila saya tidak punya uang sisa ya saya tidak memaksa untuk membeli. Beban bunga dari berhutang itu pasti, sedangkan keuntungan berinvestasi itu tidak pasti!

6. No stock picking (tidak memilih-milih saham)

Saya tidak lagi tertarik membeli saham perusahaan-perusahaan tertentu. Dengan alasan sebagai berikut: 1. Perusahaan yang menguntungkan di tahun ini kebanyakan belum tentu menguntungkan di 5 atau 10 tahun kedepan. 2. Sebagai investor pribadi dengan modal minimal, kita tidak bisa ikut mengatur suatu perusahaan. 3. Beresiko sangat tinggi dan membutuhkan waktu untuk terus mengikut berita perusahaan terkini.

7. Kontrol reaksi dan emosi diri

Saya tidak akan bisa mengontrol pasar modal ataupun mempengaruhinya, begitu juga Anda. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memfokuskan diri akan hal yang bisa kita ubah, seperti: 1. Tahu disaat diri kita sedang panik, emosi atau mencari pelampiasan 2. Mengontrol reaksi atau respon akan berita buruk 3. Mengendalikan emosi disaat kita sedang takut dan panik 4. Mengurangi membaca berita-berita sampah yang tidak penting (diet informasi)

Alokasi Aset Index Funds dan Investasi

Saat saya pertama kali mencoba berinvestasi di index fund dengan membeli ETF di Jerman, saya membeli dua macam index, yaitu: 1. MSCI World (index dunia) 70% dan 2. MSCI Emerging Market (index negara berkembang) 30%.

Setelah beberapa waktu saya membaca-baca buku dan berita, ternyata ada juga index gabungan index dunia dan index negara berkembang, yaitu MSCI ACWI. Keuntungan berinvestasi di satu index MSCI ACWI daripada dua index diatas adalah penghematan biaya transaksi.

Grafik perbandingan nilai ketiga index tersebut bisa kita lihat di bawah ini: MSCI World vs MSCI EM vs MSCI ACWI (sumber dari onvista.de)

Grafik diatas menggambarkan pergerakan nilai index secara persentual dengan patokan nilai di tahun 2012. Sebagai contoh, dibandingkan dengan nilai di awal tahun 2012, nilai index MSCI EM di awal tahun 2016 mengalami kerugian sekitar 10%. Perlu diingat, bahwa grafik diatas tidak mencakup nilai dividen yang telah dibayar. Grafik diatas juga bukan grafik nilai aktiva bersih (NAV).

Di dalam MSCI Emerging Market, index perusahaan di Indonesia mencakup 2,75% dari alokasi total. Apabila ke depan kita ingin berinvestasi lebih di Indonesia, maka kita juga bisa membeli indeks Indonesia secara terpisah. Dibanding indeks internasional diatas, index Indonesia memiliki fluktuasi nilai yang lebih tinggi dibanding tiga index diatas.

Sayangnya, saat ini ketiga indeks diatas tidak bisa dibeli melalui broker Indonesia :fa-frown-o:. Untuk sementara ini masyarakat di Indonesia bisa membeli indeks saham ETF LQ-45, IDX30 atau JII.

Jadi, di luar tabungan uang tunai, saya berusaha mengalokasikan aset investasi pribadi saya sebagai berikut: 1. Kombinasi indeks saham: 60% 2. Obligasi pemerintah (ORI): 30% 3. Logam mulia (emas): 10%

Investasi di obligasi pemerintah beresiko lebih rendah dibanding index funds. Bagi mereka yang sudah melewati usia produktif (45 tahun ke atas), saya sarankan untuk mengurai persentasi index funds dan memperbesar alokasi obligasi dan tabungan uang tunai, yang bisa diperlukan untuk membayar biaya darurat. Tentu saja Anda bisa menambahkan aset properti di alokasi investasi Anda. Saat ini saya masih belum menemukan objek properti yang cocok.

Kesimpulan

  • 7 strategi konkret berinvestasi di index funds: M-K-S, buy-and-hold, berkala, fleksibel, tidak berhutang, tidak memilih-milih saham, pengontrolan diri.
  • Untuk investor baru yang mempunyai akses broker internasional MSCI ACWI adalah investasi index termudah, termurah dan tanpa ambil pusing mengatur alokasi aset index. Untuk mereka yang mempunyai akses lokal bisa memulai dengan ETF LQ-45 atau JII.
  • 3 aset alokasi penting: index funds, obligasi pemerintah, dan logam mulia (emas).
Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin