preloader

Bagaimana cara menjadi kaya?Blog

Jujur saja, kita semua ingin menjadi orang kaya. Tidak sedikit dari kita yang bahkan ingin menjadi kaya dengan instant dan cepat.

post-thumb

BY Yongkie / ON Jan 21, 2017

Jujur saja, kita semua ingin menjadi orang kaya. Tidak sedikit dari kita yang bahkan ingin menjadi kaya dengan instant dan cepat. Coba Anda mengetik kata “cepat kaya” di pencarian Google. Hal menarik yang bisa kita lihat tertanggal 21 Januari 2017 adalah usulan google mengenai kata “kaya cepat”:

ataupun dengan pencarian kata “kaya cepat”:

Padahal seperti yang kita ketahui, untuk menjadi kaya rata-rata dari kita biasanya membutuhkan proses dan waktu. Selain itu, kita memerlukan sifat dan karakter-karakter seperti: * rajin belajar * giat bekerja * berani memulai sesuatu * tidak boros dan menabung * kesabaran dan tekat yang tinggi

Sifat dan karakter diatas perlu dipupuk menjadi suatu lifestyle dan kebiasaan. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari seseorang bisa menghadapi masalah-masalah yang ada untuk mencapai tujuan menjadi seseorang yang sukses dan kaya.

Meskipun begitu, di dunia ini tidak menutup kemungkinan untuk mencapai kekayaan dengan cara cepat. Adapun caranya yang bukan lagi rahasia umum adalah: * Cara kriminal seperti perampokan, penipuan dan lain-lain * Korupsi * Ikut dan memenangkan undian berhadiah 1 miliar rupiah * Mendapatkan warisan dari orang tua yang kaya raya * Punya ide bagus dan bisa menggaet banyak investor

Saya tidak menyarankan dan tidak mendukung cara-cara negatif dan tidak bermoral dari dua contoh pertama diatas. Cara ketiga membutuhkan keberuntungan yang sangat tinggi. Sedangkan cara keempat hanya untuk anak orang kaya. Beberapa cara diatas mempunyai kemungkinan sukses yang cukup rendah.

Puaskah Anda dengan saran cepat diatas? Jika tidak, maka marilah kita berpikir ulang mengenai keinginan Anda menjadi kaya dan melihat dari berbagai perspektiv mengenai kekayaan.

Lalu apa itu kaya?

Definisi “kaya” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:

kaya
mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya)

Benarkah apabila kita bekerja mati-matian bertahun-tahun hanya untuk mempunyai banyak harta? Jika benar, maka apakah pekerjaan dan uang pendapatan yang kita terima setiap bulannya bisa untuk mengumpulkan banyak harta? Jika tidak, maka haruskah kita menjadi penjahat atau melakukan penipuan untuk menjadi kaya?

Dalam hal ini, saya ingin mengenalkan kata lain, yaitu “sejahtera” dan “makmur”:

sejahtera
aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan)
makmur
serba kecukupan; tidak kekurangan

Dalam bahasa Inggris “kaya” berarti “rich” dan “sejahtera” berarti “wealthy”. Singkat kata, mereka yang mengejar kekayaan berarti ingin menjadi orang yang mempunyai banyak harta (uang) di hidup ini. Sedangkan mereka yang mengejar kesejahteraan berarti ingin menjadi orang yang mempunyai banyak waktu untuk hidup. Orang yang mengejar kesejahteraan tidak akan hanya mengejar harta dalam hidupnya dan bisa menikmati hal-hal yang terjadi dalam hidupnya.

Wealth is the ability to fully experience life. Henry David Thoreau

Mengapa harus kaya?

Yaa.. semua orang ingin kaya. Tapi mengapa kita harus jadi orang kaya? (dalam hal ini kaya harta dan materi). Bahkan beberapa orang harus kaya cepat… masih lagi harus kaya cepat + halal + tanpa modal.

Pertanyaan ini sangat penting untuk direnungkan dalam diri kita masing-masing, bila kita tidak ingin tersesat dalam hidup. Sebelum membaca lebih lanjut mari Anda renungkan beberapa menit dan bertanya kepada diri Anda “mengapa sih saya harus kaya?”.

Saya sendiri, setelah merenungkan dari beberapa pengalaman dan pengamatan pribadi, saya berpendapat ada berbagai macam faktor dan alasan saya untuk ingin menjadi orang kaya: * Saya ingin kaya karena tekanan sosial, entah itu dari keluarga, teman ataupun dari pasangan hidup. * Saya ingin kaya karena gengsi dan keinginan menjadi terkenal * Saya ingin kaya karena keserakahan dan kekuasaan; dengan pemikiran uang bisa membeli segalanya * Saya ingin kaya karena kemalasan; dengan pemikiran saya tidak harus bekerja * Saya ingin kaya karena ketakutan; bahwa di hari tua saya tidak ingin hidup menderita. * Saya ingin kaya karena kebodohan; dengan pemikiran hanya dengan kekayaan materi saya bisa bahagia * Saya mengejar kekayaan kerena ingin bahagia, kenyataannya kalau saya melihat orang yang kaya disekitar saya: * Banyak orang yang sudah kaya raya tapi tidak bahagia * Tidak sedikit orang yang sudah kaya yang meninggal karena bunuh diri * Banyak saudara yang berselisih hanya gara-gara warisan orang tuanya yang kaya. * Menjadi kaya tidak menyelesaikan masalah hidup, malahan bisa menambah masalah.

Many men go fishing all of their lives without knowing that it is not fish they are after. Henry David Thoreau

Jadi, jawaban saya untuk pertanyaan ini adalah: “tidak, saya tidak harus kaya akan harta dan materi, tetapi saya ingin kaya akan pengalaman. Saya mempunyai prioritas dan tujuan hidup lainnya selain menjadi orang kaya.”. Sama halnya dalam percintaan, menjadi kaya memerlukan pengorbanan.

Apa tolak ukur Anda mencapai kekayaan?

Pernah berpikir untuk mengumpulkan uang 100 juta rupiah supaya merasa kaya? Pernah berpikir untuk membeli rumah besar, mobil mewah, dan baju bagus supaya bisa merasa kaya?

Kaya itu relatif

Menurut saya, kekayaan itu bersifat relatif, relatif terhadap waktu dan tempat. Jikalau saya berada di Indonesia mempunyai uang 100 USD pada usia 10 tahun, saya pasti akan merasa sangat kaya. Sedangkan jika saya berumur 27 tahun tidak akan merasa kaya cuma hanya memiliki 100 USD, karena uang 100 USD tidak bisa membeli smartphone baru.

Satu contoh lagi: Anda telah mendapat pekerjaan idaman Anda dengan mendapat gaji 10 juta rupiah/bulan, yang telah Anda negosiasikan dengan manager Anda. Lalu setelah beberapa bulan Anda mengetahui bahwa teman-teman maupun tetangga di sekitar rumah Anda mendapatkan gaji rata-rata sebesar 20 juta rupiah/bulan. Pertanyaan saya kepada Anda, masihkah Anda merasa puas dan kaya?

Demikian juga kemakmuran, makmur itu bersifat relatif. Kapan saya merasa berkecukupan bisa berbeda-beda, dan ukuran kecukupan untuk saya bisa sangat berbeda dengan orang lain.

A man is rich in proportion to the number of things he can afford to let alone. Henry David Thoreau

Seperti kutipan Henry David Thoreau di atas, seseorang itu kaya tergantung dari jumlah barang yang bisa dia tinggalkan untuk hidup. Berdasarkan kutipan ini, blogger Jerman Holger menjabarkan rumus menjadi kaya sebagai berikut:

kaya := harta - tuntutan standard hidup

Yang berarti, kekayaan tergantung dari dua faktor, yaitu jumlah harta dan tuntutan standard hidup yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, insinyur A dan insinyur B berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan. Di akhir bulan insinyur A merasa selalu kekurangan uang, karena insinyur A harus membayar cicilan mobil mewah, cicilan rumah mewah, sering pergi ke restaurant makan dengan keluarga dan selalu membeli smartphone terbaru. Di sisi lain, insinyur B selalu bisa menabung setiap bulannya sebesar 2 juta rupiah per bulan, dikarenakan dia berpergian dengan sepeda motor, cicilan rumah sederhana, selalu masak dan makan di rumah bersama keluarga, dan ganti smartphone bila rusak. Insinyur B merasa berkecukupan, dan bisa menginvestasikan tabungannya ke produk investasi seperti obligasi dan index fund. Dalam contoh ini insinyur B jelas lebih kaya dibanding insinyur A meskipun berpenghasilan sama.

Pendapatan absolut vs. pendapatan relatif

Seperti halnya kekayaan, pendapatan kita juga bisa dianalisa dari sudut pandang pendapatan absolut dan pendapatan relatif. Mari kita simak contoh berikut ini.

Insinyur B mempunyai pendapatan 10 juta rupiah per bulan. Manager C mempunyai pendapatan 20 juta rupiah per bulan. Disini pendapatan manager C, secara absolut, 2 kali lebih besar dibandingkan insinyur B. Akan tetapi jika kita gali lebih dalam lagi, Insinyur B bekerja sekitar 30 jam/minggu, sedangkan manager C 70 jam/minggu. Disini insinyur B mempunyai gaji sekitar 83 ribu rupiah/jam, sedangkan manager C bergaji 71,4 ribu rupiah/jam. Insinyur B tinggal di Surabaya dan jarak dari tempat kerja ke kantor cuma 4 km (15 menit naik sepeda). Manager C barusan membeli rumah mewah di Jakarta, berjarak 10 km dr tempat kerja, dan membutuhkan waktu 1 jam lebih dengan mobil. Di contoh ini insinyur B mempunyai pendapatan relatif (per jam) yang lebih tinggi dibandingkan manager C.

Mari kita rangkum perbandingan di atas sebagai tabel berikut:

| |Insinyur B | Manager C | |–|— |— | |Pendapatan/bulan| Rp. 10.000.000 | Rp. 20.000.000| |Jam kerja/minggu| 30 jam | 70 jam | |Pendapatan/jam| Rp. 83.333 | Rp. 71.428| |Total waktu perjalanan| 30 menit | 120 menit |

Seperti yang kita cermati, pendapatan bisa berubah relatif terhadap satuan apa yang kita bandingkan. Kita bisa bandingan pendapatan kita dengan bulan, jam, ataupun tenaga yang dikeluarkan. Dengan waktu lebih yang dipunyai insinyur B dibandingkan dengan manager C, ia bisa memulai bisnis sampingan ataupun lebih berkonsentrasi mengurus keluarganya. Kualitas hidup kita tidak tergantung dari jumlah pendapatan absolut saja. Nah, masihkah Anda mengejar dan membandingkan pendapatan absolut Anda?

Cara cepat menjadi bahagia dan halal dan tanpa modal

Seperti yang kita baca diatas, beberapa orang ingin kaya cepat, bahkan ingin kaya hanya dengan berdoa atau dengan sedekah. Apapun kepercayaan Anda saya tidak melarang berdoa untuk menjadi sukses dan kaya. Tapi pendapat saya, berdoa saja tidak akan cukup.

Apabila Anda tetap bersih-kukuh untuk ingin menjadi kaya dengan sangat cepat dan logis, saya telah menemukan caranya. Jikalau saya merasa kekurangan, saya selalu mengingat rumus menjadi kaya diatas:

Jika saya merasa pendapatan yang saya sudah maksimal, maka saya akan mengurangi tuntutan standard hidup saya. Maka dalam sekejap saya merasa sangat kaya.

Kesimpulan

Jangan jadikan kekayaan sebagai tujuan hidupmu, melainkan carilah pengalaman dan kegiatan yang produktif. Kembangkan kepribadian yang mandiri dan pupuk kebiasaan positif. Biarlah kekayaan itu datang sebagai hadiah atau anugerah yang datang dengan sendirinya. Artikel ini saya tutup dengan tiga kalimat berikut:

Bukan lagi kekayaan yang saya cari dalam hidup ini, melainkan pengalaman hidup.

Dalam dunia berkarir dan berbisnis, bandingkan pendapatan relatif, daripada membandingkan pendapatan absolut

Tidak lagi gaji ataupun pendapatan yang bisa membuat saya merasa kaya, melainkan dengan mengurai tuntutan standard hidup saya.

Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin