preloader

Surat Pembaca: Apakah ETF / index funds menguntungkan dalam jangka waktu 5 tahun?Blog

Apakah ETF / index funds menguntungkan dalam jangka waktu 5 tahun? Karena saya pernah beli reksadana dalam waktu simpan selama 5 thn stag tidak berkembang.

post-thumb

BY Yongkie / ON Apr 09, 2017

Seorang pembaca bertanya:

Apakah ETF / index funds menguntungkan dalam jangka waktu 5 tahun? Karena saya pernah beli reksadana dalam waktu simpan selama 5 thn stag tidak berkembang.

Email lanjutan:

Produk reksadana yang saya beli adalah Manulife Saham Andalan, Manulife Dana Saham dan SAM Indonesia Equity Fund. Yang saya simpan dan beli berkala hanya produk Manulife. Akan tetapi setelah itu saya stop karena NAV nya turun bukan naik setelah 5 tahun. Sehingga saat saya jual semua, NAV nya seimbang dgn waktu saya beli.

Jawaban saya:

Istilah ETF/index funds sendiri adalah istilah umum, seperti yang saya tulis di artikel ini. Di seluruh dunia terdaftar sekitar lebih dari 4700 produkt ETF [1], dimana setiap produknya mempunyai kebijakan, biaya dan managemen yang berbeda-beda. Produk ETF bisa digolongkan menjadi: * ETF index saham * ETF pasar uang * ETF campuran * ETF komoditas.

Jadi ETF A bisa lebih menguntungkan daripada ETF B.

Tetapi, saya ingin menekankan bahwa disini saya berfokus pada ETF index saham (regional atau dunia). Saya tidak menyarankan model ETF selain index saham, dengan alasan nilai pasar uang dan komoditas adalah nilai spekulatif. Spekulatif dikarenakan murni dari nilai permintaan dan nilai penawaran pasar, contohnya nilai harga emas atau minyak mentah. Lebih lanjut di Indonesia saat ini masih terdapat 6 ETF lokal Indonesia (baca di artikel ini. Jika Anda masih bingung dengan perbedaan ETF dan reksadana dan indeks fund Anda bisa kembali membaca artikel ini.

Semua nilai ETF bisa naik turun sama halnya nilai bursa efek. Maka dari itu, tidak ada jaminan bahwa ETF/Index Funds akan menguntungkan dalam waktu 5 tahun. Sebagai contoh, bisa jadi nilai ETF Anda naik terus dalam 4 tahun ke depan, lalu di tahun ke 5 terjadi krisis global dan nilai ETF Anda turun bebas. Maka bisa jadi di tahun ke 5 produk ETF Anda kembali seperti 5 tahun sebelumnya. Jika ini yang terjadi, paling tidak Anda telah mendapatkan dividen per tahunnya.

Nilai ETF mencerminkan nilai pasar. Jika pasar panik, maka nilai ETF akan jatuh. Bahkan seorang manager investasi pun tidak akan bisa menjamin keuntungan Anda.

Nah, mungkin Anda berpikir, “lalu mengapa Anda menulis tentang ETF index saham bisa menguntungkan?”:

  1. Nilai sebuah saham mewakili nilai suatu perusahaan, dan sebuah perusahaan menghasilkan sesuatu (material atau jasa) dengan tujuan keuntungan. Sebagai investor, keuntungan ini bisa kita dapatkan berupa dividen. Sayangnya banyak produk reksadana saham indonesia tidak memberikan dividen, melainkan memasukkan dividen yang ada kedalam produk reksadana tersebut (re-investasi). Proses reinvestasi ini membuat nilai NAV reksadana menjadi naik. Kecuali melalui online broker internasional, saat ini di Indonesia kita tidak bisa membeli ETF index saham dunia. Broker-broker di Indonesia hanya menawarkan index saham Indonesia.

  2. Banyak studi mengenai nilai pasar saham dunia yang melaporkan rata-rata keuntungan pertahun sekitar 7%. Contohnya index dunia MSCI World mempunyai rata-rata pertahun dari tahun 1994 sampai 2017 sebesar 7,28% [2]. Faktanya, untuk index saham di Indonesia sendiri sebesar 17,97% (dari tahun 2000-2017) [3]. Perhatian, jika anda melihat grafik tersebut maka ada waktu-waktu tertentu di mana harga index jatuh. Contohnya di tahun 2008, nilai index Indonesia jatuh -56,48%, index dunia -40,33%. Disini Anda juga harus kritis, dimana perhitungan ini dimulai dari tahun sebelum 2000.

  3. Untuk menghindari kerugian seperti diatas, saya menerapkan strategi investasi berkala dan jangka panjang (lihat artikel ini). Di saat harga index saham jatuh, pada saat itulah ujian sebenarnya datang. Jika Anda panik, maka Anda akan menuai kerugian. Jika anda mempunyai pikiran tenang, Anda tahu bahwa nilai saham juga pasti akan naik. Di saat ini Anda bisa membiarkan ETF Anda atau malah tetap berinvestasi. Disini saya tidak menyarankan berspekulasi. Lain halnya jika Anda membeli saham satu perusahaan, jika perusahaan ini kalah bersaing dan merugi, maka nilai perusahaan hanya akan menuju kearah 0 selama pihak managemen tidak berubah. Sedangkan dengan berinvestasi di index saham, nilai index tidak akan sampai menjadi 0, karena merupakan nilai saham gabungan. Jika suatu perusahaan di dalam index bangkrut, maka perusahaan lain akan masuk menggantikan perusahaan tersebut secara otomatis.

  4. Prinsip ekonomi dan kapitalisme di abad ini selalu mengarah ke pertumbuhan (growth). Jadi saya juga berkeyakinan hal yang sama. Hal terpenting adalah, bagaimana kita bisa melihat potongan biaya (fee atau charge) yang akan memangkas pertumbuhan investasi kita dari produk yang kita punya.

Mengenai produk reksadana yang dibeli pembaca, grafik dibawah ini menunjukan perkembangan nilai keuntungan (performance) dalam lima tahun terakhir (sumber: Bloomberg [4]). Garis oranye mewakili nilai Manulife Saham Andalan. Garis biru mewakili Manulife Dana Saham, dan garis merah mewakili SAM Indonesia Equity Fund.

Grafik perbandingan reksadana Manulife dan SAM

Disini kita bisa melihat sendiri bahwa dengan waktu beli yang sama, produk reksadana menghasilkan prestasi yang berbeda. Lebih lanjut kedua produk reksadana Manulife tersebut mempunyai korelasi yang sama, yang berarti kedua produk tersebut mempunyai alokasi aset yang mirip.

Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin