preloader

Analisa Cepat Produk Reksadana dan ETF di IndonesiaBlog

Walaupun saya bukan fans reksadana, melainkan ETF. Tetapi kali ini saya coba berbagi cara saya menganalisa produk reksadana Indonesia.

post-thumb

BY Yongkie / ON Aug 27, 2017

Beberapa teman saya bertanya, “Bagaimana sih menganalisa produk reksadana secara cepat?”

Walaupun saya bukan fans reksadana, melainkan ETF. Tetapi kali ini saya coba berbagi cara saya menganalisa produk reksadana Indonesia. Saya melihat banyaknya produk reksadana yang telah menjamur di Indonesia, akan tetapi untuk orang awam sangat sulit untuk membandingkan produk reksadana yang ditawarkan.

Motivasi

Sampai saat ini telah terdapat lebih dari 1591 reksadana yang terdaftar di Indonesia [1]. Di lain pihak sampai sekarang telah terdaftar 1210 reksadana yang telah dibubarkan [2]. Jadi sekitar 43% dari total reksadana telah di bubarkan! Oleh sebab itu betapa pentingnya membaca dan menganalisa prospektus reksadana yang akan dibeli.

Sayangnya menganalisa dan mengerti prospektus bukanlah hal yang mudah bagi kita para investor privat. Mulai dari pengetahuan yang kurang, sampai bahasa dan kata-kata perekonomian dan perundang-undangan yang susah dimengerti. Ditambah lagi kurangnya transparansi dan informasi dari institut yang mengeluarkan reksadana tersebut. Kali ini saya ingin menjabarkan cara-cara menganalisa cepat produk reksadana. Anda bisa menggunakan portal Bareksa untuk mencari dan memfilter reksadana-reksadana yang ada.

Kata kunci untuk analisa Reksadana

Kata-kata kunci yang perlu kita analisa dan bandingkan dalam mebaca prospek produk reksadana adalah:

  • Nilai index atau jenis portfolio di belakang produk reksadana:
    • apakah reksadana tersebut mewakili 30 perusahaan terbesar di Indonesia atau total semua perusahaan di pasar modal Indonesia?
    • apakah reksadana tersebut 100% reksadana saham, 100% obligasi, 100% pasar uang atau campuran?
  • Strategi pembagian Keuntungan:
    • pencairan dividen: pemilik reksadana mendapatkan pembagian dividen secara udang tunai yang ditransfer ke akun pemilik. Saat ini saya belum menemukan reksadana lokal yang menjalankan strategi ini
    • reinvestasi: hasil dividen di investasikan kembali kedalam produk reksadana atau ETF, disini ada dua kemungkinan antara nilai NAV menjadi naik atau nilai per lembar Anda menjadi lebih.
  • Alokasi Biaya:
    • Biaya pembukaan: biaya yang dikenakan untuk pertama kali membeli produk reksadana
    • Biaya Pembelian: biaya yang dibayar sewaktu kita membeli reksadana selanjutnya.
    • Biaya Penjualan kembali: biaya yang dibayar sewaktu kita menjual reksadana
    • Biaya Manager Investasi / tahun: biaya yang dibayarkan untuk manager investasi (hanya untuk produk reksadana yang aktif, tidak berlaku untuk reksadana ETF)
    • Biaya Bank Kustodian / tahun: biaya yang dibayarkan ke bank pengelola reksadana
  • Total dana kelolaan: semakin besar dana yang dikelola semakin kecil kemungkinan reksadana tersebut bakal ditutup.

Selain itu visualisasi grafik di Bloomberg juga sangat bermanfaat untuk membandingkan nilai NAV antar produk reksadana. Anda bisa membuka Bloomberg lalu ketik nama produk reksadana yang Anda cari.

Kesimpulan

Saya pribadi memilih produkt dengan kriteria sebagai berikut: 1. diversifikasi: sebisa mungkin mencakup saham internasional. 2. mempunyai portfolio saham yang tinggi (100% atau minimal 70%), dan sebisa mungkin tidak meliputkan pasar uang. Alasan saya dikarenakan saham perusahaan lebih mempunyai arti riil untuk ekonomi negara dan masyarakat (lapangan pekerjaan) dibandingkan pasar uang. 3. kalau bisa pencairan dividen, tetapi sangat jarang di Indonesia sehingga reinvestasi juga boleh apabila tidak ada pilihan. 4. Total alokasi biaya seminimal mungkin dari produk yang ada. 5. Total dana alokasi minimal 50 Milyar rupiah.

Jangan mudah percaya perkataan orang lain, pegawai bank ataupun konsultan finansial. Juga jangan membiarkan angka persentai keuntungan suatu reksadana menjebak Anda untuk berinvestasi di produk yang tidak sesuai.

Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin