preloader

Mengerti Resiko Bitcoin, Bank Indonesia dan Berita MassaBlog

Minggu lalu Mama saya mengirim link berita dari suarasurabaya.net berjudul ‘Bank Indonesia Ingatkan Risiko Bitcoin’.

post-thumb

BY Yongkie / ON Dec 18, 2017

Minggu lalu Mama saya mengirim link berita dari suarasurabaya.net berjudul “Bank Indonesia Ingatkan Risiko Bitcoin”. Setelah saya baca tulisan di berita tersebut, saya membaca banyak sekali kejanggalan dan pendapat salah mengenai Bitcoin, dan bagaimana tokoh-tokoh instansi penting mengomentari hal yang tidak mereka mengerti berdasarkan interpretasi mereka. Dengan membaca berita ini, akan banyak orang yang mengalami efek bias konfirmasi (Confirming Evidence). Nah mari saya bahas hal-hal janggal yang saya baca. Gambar dibawah ini adalah cuplikan dari website [suarasurabaya.net].

BI{.center}

Di paragraf kedua Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan:

“Jadi saya ingin mengatakan risiko itu adalah sesuatu yang jangan diambil enteng. Itu adalah sesuatu yang jangan kemudian disesali kalau seandainya ada masyarakat yang ingin lebih jauh mengetahui tentang Bitcoin”

Pak Martowardojo benar bahwa resiko investasi di Bitcoin jangan diambil enteng. Akan tetapi Dia mencampuradukkan keingintahuan masyarakat mengenai Bitcoin dengan resiko berinvestasi di Bitcoin. Dengan komentar ini Dia menakut-takuti orang yang ingin belajar dan mencari tahu. Komentar Dia sangat bertentangan dengan prinsip saya. Kita tidak harus takut untuk mencari tahu dan mempelajari hal-hal baru, termasuk di dunia investasi. Masalahnya disini adalah banyak orang yang malas dan serakah sehingga masyarakat lebih ingin berspekulasi daripada berinvestasi (jangka panjang dan pasif). Jika saya boleh memperbaiki kalimat Pak Martowardojo, maka saya akan bilang “Resiko berspekulasi dengan Bitcoin jangan diambil enteng. Habiskan waktumu untuk mencari tahu dan belajar mengenai teknologi Bitcoin, daripada cuma memelototi harga kurs setiap jam!”

Paragraf ketiga dan keempat sangatlah menarik dimana saya mempertanyakan apakah jurnalis penulis berita tersebut mencampur komentar pribadi die ke berita tersebut. Tulisan “tidak dijamin dan tidak diakui di Indonesia” tidak saya temukan di kutipan paragraf keempat. >Dia juga mengatakan, mata uang digital –Bitcoin– tidak dijamin dan merupakan investasi yang tidak diakui di Indonesia saat ini. Selain itu, Bitcoin juga bukan merupakan alat pembayaran yang sah.

“Jadi saya selalu mengatakan kepada masyarakat untuk paham bahwa ada risiko dengan instrumen Bitcoin,” ucap dia.

Terlepas dari itu, mari kita berpikir apa maksud dari kata “tidak dijamin”. Saya bertanya produk finansial mana yang dijamin (pemerintah)? Mungkin hanya produk obligasi pemerintah (ORI). Itupun pemerintah hanya menjamin bunga dari obligasi, tetapi tidak menjamin harga pasar obligasi di bursa saham akan selalu naik! Apakah pemerintah atau BI menjamin uang saya seandaikan saya membeli saham perusahaan Bakrie Group lalu minggu depannya harga saham Bakrie anjlok karena kasus (Lumpur Lapindo)? Untung-untungan kalau semua korban masyarakat di daerah lumpur bisa dijamin pemerintah. Mengenai kata “tidak diakui” saya hanya bisa tersenyum lebar. Bitcoin dan komunitas Bitcoin tidak perlu diakui oleh siapapun. Bitcoin adalah suatu produk dari sebuah teknologi baru bernama Blockchain. Apakah BI harus mengakui produk smartphone atau teknologi internet sebelum teknologi ini terus berkembang?

Di paragraf kelima saya membaca kata “sehat”. Saya tanya kepada diri saya sendiri, apa difinisi mata uang yang sehat? MAta uang yang berinflasi 5% per tahun atau mata uang yang tidak bisa berinflasi? Lalu apa difinisi produk investasi yang sehat? Singkat kata ang saya tahu, dalam berinvestasi saya membutuhkan modal dan akal pikiran yang sehat.

Di paragraf keenam sampai kedelapan, penulis artikel mengungkitkan komentar Ibu Sri Mulyani. Disini saya lebih menujukan peringatan Ibu Sri Mulyani kepada spekulator mata uang digital yang masih belum mengerti pengetahuan dasar mengenai Bitcoin.

Paragraf terakhir saya membaca hal yang diluar dugaan saya. Disini Pak Tobing sebagai Ketua Satgas Waspada Investasi berkata: > “Menurut Tobing, mata uang virtual untuk investasi berpotensi merugikan masyarakat karena perusahaan tersebut mengiming-imingi bunga yang tidak masuk akal. Jika masyarakat ingin berinvestasi, kata dia, lebih baik ke sektor produktif atau ke produk keuangan yang legal.”

Disini Pak Tobing perlu mengerti lebih dalam mengenai Bitcoin. Bitcoin tidak pernah mingiming-imingi bunga. Mungkin yang dimaksud Pak Tobing adalah penipuan investasi di suatu perusahaan mining Bitcoin yang mengiming-imingi bunga tinggi. Memang benar banyak oknum-oknum yang menawarkan Bitcoin bohongan dengan bunga dan kita jangan sampai terjebak berinvestasi disana. Ingat saat ini jika ingin berinvestasi dalam Bitcoin adalah dengan langsung membeli Bitcoin. Membangun komputer pribadi untuk mining sudah tidak akan menguntungkan lagi saat ini. Orang yang menawarkan Bitcoin dengan bunga tinggi per bulan adalah penipu.

Kesimpulan pribadi saya adalah jangan percaya 100% akan berita media. Berpikir kritis dan mencari tahu teknologi dan informasi sebenarnya sebelum berinvestasi adalah jalan yang bijaksana. Seperti halnya produk investasi lainnya, jika seseorang tidak mempunyai dasar pengetahuan investasi maka apapun produk yang dibeli di pasar mempunyai resiko yang hampir sama tingginya. Saya sendiri menerapkan strategi investasi pasif untuk portofolio Bitcoin saya.

Share:
comments powered by Disqus

Berlangganan
buletin